Business News

Contoh Fenomena Counterintuitive

Contoh fenomena Counterintuitive ini benar- benar terjadi kepada saya pada baru- baru ini, sehingga saya membuat tindakan untuk menganalisa lebih lanjut guna melihat keadaan dengan lebih tajam lagi. Kejadian ini terjadi ketika saya memiliki sebuah divisi dengan jumlah sekitar 100 orang, yang memerlukan pengarahan untuk tetap melakukan aktivitas kerja. Namun, saya tidak bisa melakukan nya karena SOP dan peralatan nya belum ada. Tentu kedua hal tersebut bisa saya buat dan adakan. Tetapi, ketika saya memilki waktu untuk mengeksekusi nya, saya malah melakukan tindakan lain.

Jadi, saya harus membuat sebuah sistem kerja, SOP, dan juga Sarana+ Prasarana kerja. Saya memutuskan, hal yang saya buat pertama kali adalah Sistem kerja dulu. Tetapi, pada praktek nya, fokus saya malah mengarah pada tindakan membuat display atas sarana dan prasarana kerja. Saya berfokus pada display (tampilan) nya. Bukan berfokus pada hal yang utama. Setelah satu minggu bekerja, dan ketika tanggal deadline tiba, banyak sistem kerja (90%) belum terselesaikan.

Saya terlalu sibuk merancang display nya, agar berwujud sesuai keinginan saya, dan malah mengabaikan sistem utama nya. Waktu telah habis, dan saya menyesal tidak bisa menyelesaikan project ini. Saya coba rehat sejenak, lalu berfikir bahwa; Apabila saya membuat sistem utama nya, dan mengabaikan wujud tampilan nya, mungkin project ini bisa selesai, dan orang- orang yang menunggu (divisi) saya bisa melanjutkan aktivitas kerja karena sistem kerja telah selesai dibuat. Tetapi, bila saya membuat display nya, dan bilamana saya berhasil menyelesaikan nya, maka divisi saya masih tetap tidak bisa melakukan aktivitas kerja.

Wujud sistem kerja yang saya ingin bangun, mungkin memiliki nilai positif, yaitu memudahkan administrator untuk menggunakan nya. Tapi bila tidak saya buat, tetapi saya berhasil membuat sistem kerja nya, maka aktivitas kerja bisa berjalan, meski akan muncul beberapa kesulitan dalam menggunakan nya.

Saya terlalu berfokus pada Display dan mengabaikan rancangan utama nya. Aktivitas kerja sama sekali tidak bisa berjalan, karena aspek utama nya (rancangan sistem kerja) belum dibuat. Saya terlalu terobsesi dengan tampilan, karena sebenar nya -baru saya sadari, ada titik dimana sifat perfeksionist saya muncul. Dan titik itu adalah; terlalu terobsesi dengan tampilan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *