Business News

Kendali Mindset Sebuah Pesimisme dalam Psyche terdalam

Disini saya akan menjelaskan psikologis sebuah pesimisme, yang ada dalam pikiran tidak sadar (unconsciousness mind) yang jangkauan nya berada di bagian paling bawah palung pikiran, dimana selama ini tidak saya sadari keberadaan nya dan saya hidup dengan hal tersebut selama puluhan tahun (dan bahkan seumur hidup). Hari ini, tepat dimana tulisan ini saya buat pada tanggal 22 februari 2019, saya tersadar mengenai hal ini ketika saya memimpikan sesuatu, yang membuka pikiran saya. Kemudian saya mencoba menuangkan nya langsung di dalam tulisan ini.

Pembahasan utama disini terletak pada lokasi dimana pikiran pesimisme tersebut berada. Yaitu ada di dalam pikiran bawah sadar yang cukup dalam. Tidak hanya itu, secara tidak sadar juga, ternyata pikiran tersebut mengendalikan aspek penting lain dalam kehidupan saya; yaitu mengenai Result (hasil) atas segala jenis tindakan yang saya lakukan selama ini. Saya akan mencoba memulai nya dengan menceritakan sedikit mengenai mimpi saya, agar terdapat suatu gambaran yang vivid mengenai topik pembahasan ini.

Hari ini, saya bermimpi bertemu dengan artis idola saya yang selama bertahun- tahun saya kagumi. Dalam mimpi tersebut, saya dan dia berada di dalam sebuah ruangan semacam tempat pertemuan berbentuk rumah (bukan sebuah aula ataupun hall). Tidak ada kursi ataupun meja disana, meskipun itu tempat pertemuan. Hanya ada ruangan kosong dengan lantai.

Sekedar tambahan, dalam mimpi itu terdapat seorang artis lain yang juga saya kagumi (tapi rasa kagum saya tidak seperti artis utama yang saya ceritakan).

Saya hendak mencium nya. Bahkan dia sudah bersiap menyuguhkan bibir nya itu. Tetapi, tiba- tiba saja muncul teman dari artis tersebut yang tiba- tiba masuk ke dalam ruangan itu, dan menginterupsi. Namun, pada akhirnya orang tersebut berhasil saya minta keluar dari ruangan. Selanjutnya, muncul fans dari artis itu, yang mengintip dari pintu luar. Saya semakin was- was dengan keadaan tersebut. Kemudian, muncul lagi orang disekeliling ruangan itu yang hendak mengintip, sehingga saya tidak jadi mencium nya. Artis itu pun seakan menghindar dari saya.

Ketika terbangun, saya menyadari satu hal; mengapa muncul banyak interupsi?, yang membuat sesuatu hal yang sangat saya impi- impikan selama bertahun- tahun dengan artis tersebut gagal terjadi?. Keadaan- keadaan yang terjadi dalam mimpi saya itu ternyata menggambarkan aspek lain dalam mindset saya. Ternyata saya mengijinkan interupsi itu terjadi, tetapi tidak saya sadari. Interupsi tersebut harus nya tidak muncul, apabila saya meyakini tidak ada interupsi. Interupsi itu muncul ketika saya berfikir pasti akan ada interupsi yang terjadi.

Saya pesimis akan berhasil mencium nya. Saya pesimis bahwa suatu hal yang saya sangat saya impikan selama bertahun- tahun (mencium artis tersebut) akan terwujud, padahal hal itu ada di depan saya. Karena saya pesimis, kemudian saya mengijinkan interupsi (hambatan ataupun peluang kegagalan) melangkah di hadapan saya dan menghalangi saya. Rasa pesimisme tersebut pun menciptakan alasan untuk mundur, dan kemudian menyerah, tidak jadi mendapatkan impian saya. Dan semua skema ini terjadi tanpa saya sadari sama sekali. Tanpa saya sadari sama sekali.

Mindset pesimis ini, yang ada di dalam palung pikiran, wujud nya dalam dunia nyata yang saya alami adalah; saya cenderung memilih solusi ataupun metode yang malah cukup memiliki peluang kejadian untuk gagal, alih- alih memilih yang pasti berhasil. Dimana ketika saya coba compare dengan mensimulasikan cara/ metode yang anti gagal (atau cenderung memiliki tingkat kegagalan yang jauh lebih kecil), ternyata metode/ cara tersebut ada (available). Tapi otak saya sama sekali tidak  mengarah untuk menemukan solusi yang cenderung memiliki tingkat kegagalan yang jauh lebih kecil. Otak saya selalu memunculkan solusi yang cenderung memiliki peluang kejadian untuk gagal, dan tindakan saya selalu memilih hal tersebut tanpa mempertanyakan sama sekali; apakah ada solusi yang peluang berhasil nya itu hampir 100% terjadi !?.

Mengapa saya lebih cenderung untuk mengambil solusi yang banyak trial dan error nya?. Karena saya meyakini tidak ada solusi yang tanpa masalah. Semua solusi membutuhkan trial dan error, dan akan ada masalah yang akan muncul PASTI. Kata “PASTI” tersebut lah yang membuat saya cenderung mencari dan menerapkan solusi yang sulit terealisasi atau cenderung memiliki peluang kegagalan yang besar.

Memang, asumsi lama tersebut ada benar nya. Sebuah solusi, dalam aspek yang saat ini saya kerjakan yaitu membangun bisnis baru, tidak semata- mata bisa diwujudkan dengan mudah. Tetapi, apabila berhasil menembus mindset pesimisme ini, akan ada banyak peluang yang muncul, yang sangat luas pencapaian nya dengan pencapaian yang luar biasa besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *