You are currently viewing Kisah Para Pengguna Joki Skripsi Express dari Berbagai Klien Saya

Kisah Para Pengguna Joki Skripsi Express dari Berbagai Klien Saya

Bayu Dirgantara

Business Intelligence Analyst di Unilever Indonesia. Mantan Joki Skripsi dengan pengalaman 5 tahun penuh. Suka ngopi dan begadang untuk mendalami teori- teori rumit.

Cukup sering ada orang yang bertanya kepada saya, “Sebenarnya Skripsi Express itu seperti apa?” atau “Ada tidak sih cerita dari orang-orang yang pernah pakai jasa mereka?”.

Daripada saya menjawab satu per satu dengan potongan jawaban yang tercecer ke mana-mana, saya merasa lebih baik menuliskannya sekalian dalam satu artikel. 

Tulisan ini saya susun dari berbagai cerita yang pernah saya dengar langsung dari para klien saya dulu, saat saya masih menjadi joki skripsi. Ini adalah intisari dari obrolan-obrolan yang pernah sampai ke telinga saya, dari orang-orang yang memang pernah bersinggungan dengan layanan tersebut.

Sebelum masuk ke pembahasan utama, ada satu hal kecil yang mungkin perlu saya ceritakan dulu. Waktu saya masih menjadi joki, saya pernah ditawari bekerja oleh pihak Skripsi Express. Hal ini sudah saya ceritakan di artikel saya yang lain, yang berjudul: Cerita Saya sebagai Mantan Joki Skripsi: Dari Sekedar Membantu Teman Hingga Menjadi Profesi Tetap

Saat itu, admin mereka tiba-tiba menghubungi saya dan menawarkan kerja dengan nominal gaji yang cukup lumayan. Namun pada masa itu saya masih punya klien sendiri dan masih bisa berjalan dengan ritme kerja saya sendiri, jadi tawaran itu saya tolak. Saya memilih tetap di jalur saya waktu itu sebagai joki skripsi independen. 

Dari situ sebenarnya yang membuat saya sedikit banyak memperhatikan bagaimana mereka bekerja.

Hal yang Sering dikatakan Orang tentang Skripsi Express

100% Aman dan Terjamin

Kalau ada satu hal yang paling sering muncul dari cerita para klien saya, itu adalah soal rasa aman. Saya bisa bilang bahwa nama Skripsi Express termasuk yang sering disebut sebagai layanan yang bertanggung jawab, bukan tipe jasa yang setelah menerima uang lalu menghilang begitu saja. Dalam dunia per-joki-an seperti ini, itu bukan hal kecil. Justru itu hal paling dasar yang sering gagal dipenuhi oleh banyak jasa joki lain.

1. Tangkapan layar komentar dari petugas Skripsi Express kepada klien Bag. Pertama
2. Tangkapan layar komentar dari petugas Skripsi Express kepada klien Bag. Kedua

Beberapa orang yang pernah saya tanyai pada dasarnya menyampaikan kesan yang sama. Kurang lebih inti ceritanya begini: 

“Ketika ada kesalahan, ketika ada hal yang perlu diklarifikasi, atau ketika muncul masalah yang berkaitan dengan administrasi maupun transaksi, pihak mereka selalu bisa diajak bicara dengan profesional. Mereka tidak lari. Mereka tidak bersembunyi di balik chat yang didiamkan berhari-hari.”

Bagi mahasiswa yang sedang tertekan oleh deadline, sikap seperti itu terasa sangat berarti.

Saya tahu betul, di luar sana ada banyak penyedia jasa skripsi— termasuk joki skripsi- yang begitu pembayaran selesai, tanggung jawab mereka ikut lenyap. Chat mulai lambat dibalas. Nada bicara berubah. Janji-janji yang sebelumnya terdengar meyakinkan tiba-tiba menjadi kabur.

3. Contoh joki skripsi yang pelayanannya manis di awal pahit tapi berakhir menipu

Karena itu, ketika saya mendengar ada layanan yang justru menyelesaikan masalah dan tidak lepas tangan, saya mencatatnya sebagai sesuatu yang patut disebut.

Bukan berarti semuanya pasti selalu sempurna. Tidak seperti itu juga. Tetapi dari cerita yang saya kumpulkan, kesan paling kuat memang ada pada sisi tanggung jawab mereka. Dan dalam urusan seperti ini, tanggung jawab sering kali lebih menenangkan daripada kata-kata promosi yang terlalu manis.

Rata-Rata Hasil nya Bagus

Hal kedua yang cukup sering muncul adalah soal hasil. Dari apa yang saya lihat, rata-rata hasil layanan joki Skripsi Express memang tergolong bagus. Saya bilang rata-rata karena saya tidak sedang bicara seolah semua hasil mereka pasti luar biasa, melainkan karena dari beberapa contoh yang sempat klien saya perlihatkan ke saya, kualitasnya terlihat rapi dan layak.

Perlu saya jelaskan juga, saya tahu ini bukan karena saya sengaja memburu informasi tentang mereka. Bukan begitu. Saya hanya beberapa kali mendengar cerita dan mendapat tangkapan pengalaman dari klien-klien saya sendiri. Ada yang datang kepada saya setelah sebelumnya mempertimbangkan Skripsi Express. Ada juga yang pernah menunjukkan hasil dari sana sambil bertanya pendapat saya. Dari situlah saya bisa melihat sedikit gambaran.

Kalau dibandingkan dengan hasil kerja saya waktu itu, terus terang saya masih merasa hasil saya lebih bagus. Tetapi saya juga harus jujur pada posisi saya sendiri. Saya memang berspesialisasi di bidang itu, jadi tentu penilaian saya tidak bisa dilepaskan dari pengalaman dan kebiasaan saya bekerja. Karena itu, saya tidak ingin membandingkannya secara berlebihan. Yang lebih adil adalah mengatakan bahwa hasil mereka, setidaknya dari yang pernah saya lihat, cukup bagus dan cukup memuaskan untuk banyak kebutuhan mahasiswa.

Ada satu hal yang mungkin membuat sebagian orang bertanya, “Kalau begitu, kenapa klien-klien itu malah datang ke saya, bukan tetap memakai Skripsi Express?” Jawabannya sederhana. Banyak klien saya datang bukan karena mereka sudah mencoba semua jasa lalu membandingkan satu per satu, melainkan karena mereka mendapat rekomendasi langsung dari teman yang pernah memakai jasa saya. Dalam urusan seperti ini, rekomendasi personal sering lebih kuat daripada nama jasa yang sudah lebih dulu dikenal. 

Orang cenderung memilih tempat yang sudah dipakai orang terdekatnya, apalagi kalau temannya berkata, “Pakai yang ini saja, saya dulu beres di situ.”

Jadi, fakta bahwa saya tahu sedikit tentang hasil Skripsi Express tidak karena klien-klien itu datang kepada saya setelah kecewa dari sana. Mereka hanya sedang menimbang pilihan, lalu akhirnya menjatuhkan pilihan kepada saya karena faktor rekomendasi dan kedekatan cerita.

Pelayanan & Administrasi Mereka Terstruktur dan Rapi

Hal lain yang cukup sering diungkapkan oleh para klien saya tentang Skripsi Express adalah soal cara kerja mereka yang terstruktur dan rapi. 

Terus terang, saya tidak terlalu kaget mendengar itu. Dari luar saja, kesan itu sudah cukup terasa. Saya pernah melihat platform website mereka, dan tampilannya memang disusun dengan serius. Bukan tipe website yang dibuat seadanya lalu dibiarkan begitu saja, melainkan platform yang dari awal tampak ingin terlihat tertib.

Harap dipahami, bahwa berdasarkan analisa yang saya lakukan, jika penyedia jasa joki itu platform website nya buruk, seringkali bermasalah pada akhirnya. Platform yang buruk, menjadi pertanda besar bahwa mereka tidak secara serius mengurus bisnis nya —dan termasuk juga mengurus klien nya.

Yang paling membuat saya menangkap kesan itu bukan cuma desainnya, tetapi juga kelengkapan hal-hal yang sering diabaikan oleh penyedia jasa lain. Halaman Terms of Service mereka terlihat lengkap. Kebijakan privasinya jelas. Deskripsi layanannya juga rinci. 

6. Kejelasan layanan yang detail dari Skripsi

Buat sebagian orang, hal-hal seperti itu mungkin terasa sepele. Tetapi bagi saya, justru di situlah sering terlihat apakah sebuah layanan dikelola dengan sungguh-sungguh atau hanya dibangun untuk sekadar terlihat meyakinkan dari permukaan.

Kesan rapi itu juga tidak berhenti di tampilan. Dari cerita para klien saya, pola kerja mereka pun cenderung tertata. Hasil dikirim tepat waktu, komunikasi berjalan sesuai alur, dan jarang sekali ada cerita tentang pekerjaan yang berantakan di tengah jalan. 

Ada klien yang kurang lebih pernah bilang kepada saya, “Saya pakai mereka karena semuanya terasa jelas. Dari awal sudah tahu alurnya bagaimana, kapan dikirim, dan apa yang saya terima.” Kalimat seperti itu sederhana, tetapi cukup menjelaskan mengapa kesan “rapi” begitu sering muncul.

Bahkan mereka juga punya sistem invoice otomatis.

Bagi saya pribadi, itu bukan detail kecil. Sebagai orang yang punya latar belakang dari jurusan S.I., saya bisa melihat bahwa platform seperti itu tidak dibangun asal jadi. Ada pemikiran, ada struktur, dan ada upaya untuk membuat proses layanan terasa lebih profesional. 

Saya Hampir Tidak Pernah Mendengar Catatan Buruk tentang Skripsi Express dari para Klien Saya

Kalau membahas penyedia jasa skripsi atau bahkan joki skripsi pada umumnya, biasanya selalu ada saja cerita miring yang beredar. Kadang soal hasil yang tidak sesuai. Kadang soal keterlambatan. Kadang soal admin yang awalnya ramah lalu berubah dingin setelah pembayaran masuk. 

Dalam pekerjaan saya dulu, saya cukup sering mendengar cerita-cerita semacam itu dari para klien.

Tetapi, apabila saya mencoba mengingat kembali semua obrolan tentang Skripsi Express, saya hampir tidak menemukan komplain buruk tentang mereka.

Saya tidak bilang itu berarti mereka sempurna. Namun dari cerita yang pernah sampai ke saya, memang sangat jarang ada keluhan tentang mereka. Saya pernah mencoba mengingat-ingat lagi, menelaah lagi, bahkan seperti memutar ulang percakapan lama di kepala saya: “Dulu klien bilang apa, ya, soal mereka?” Dan sejauh yang saya ingat, saya tidak punya banyak bahan untuk menyebut kekurangan fatal mereka dari pengalaman para klien saya.

Itu justru yang membuat mereka terasa berbeda.

Sebab di bidang seperti ini, biasanya reputasi buruk lebih cepat menyebar daripada reputasi baik. Sekali ada masalah besar, kabarnya hampir pasti beredar dari mulut ke mulut. 

Jadi, ketika sebuah nama relatif sepi dari cerita buruk, itu sendiri sudah menjadi sinyal yang sangat positif. Bukan bukti mutlak, tentu saja, tetapi cukup untuk membuat saya mencatat bahwa mereka punya tingkat konsistensi yang tidak dimiliki banyak penyedia jasa lain.

Tidak Ada WhatsApp

Tetapi tentu saja saya tidak ingin menulis ini seperti brosur promosi. Karena ini adalah ulasan independen dari saya, maka saya juga mau menyampaikan kekurangan yang saya tahu. Dan salah satu kekurangan yang menurut saya cukup signifikan adalah: mereka tidak menyediakan WhatsApp sebagai jalur komunikasi utama (setidaknya sampai diwaktu saya menulis artikel ini).

4. Jalur komunikasi utama di Skripsi

Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar sepele. Namun di lapangan, saya melihat sendiri bahwa hal itu cukup berpengaruh. Banyak mahasiswa sudah terbiasa dengan pola komunikasi yang serba cepat, langsung, dan akrab melalui WhatsApp. Mereka ingin bisa bertanya sebentar, kirim pesan singkat, lalu merasa tenang karena percakapan terasa dekat. Ketika jalur itu tidak tersedia, ada semacam jarak yang langsung terasa.

Dari yang saya lihat, mereka menggunakan sistem tiket pesan. Setelah saya tanyakan kepada beberapa klien, ternyata komunikasi lewat sistem itu sebenarnya tidak ada masalah. Bahkan dalam beberapa kasus, justru lebih tertib karena semua percakapan terdokumentasi dengan jelas. Tidak tercecer, tidak tenggelam, dan tidak bercampur dengan chat-chat lain seperti yang sering terjadi di WhatsApp. Secara sistem, saya bisa memahami kenapa mereka memilih model seperti itu.

Tetapi kebiasaan orang tidak selalu berjalan searah dengan sistem yang paling rapi.

Ada klien yang kurang lebih pernah bilang begini kepada saya, “Saya sebenarnya tidak masalah, Mas, tapi rasanya tetap beda kalau tidak ada WhatsApp. Kayak kurang enak saja buat tanya-tanya cepat.” Kalimat itu sangat mewakili persoalannya. Masalahnya bukan semata-mata soal lancar atau tidak lancar, melainkan soal kenyamanan yang sudah telanjur akrab.

Dan saya melihat, inilah salah satu alasan mengapa sebagian klien yang sempat mempertimbangkan atau bahkan sempat berhubungan dengan Skripsi Express akhirnya beralih kepada saya. Bukan berarti semuanya pindah murni karena faktor WhatsApp. Tetapi dari berbagai alasan yang pernah saya dengar, ketiadaan WhatsApp memang termasuk yang paling sering disebut. 

Dalam dunia jasa seperti ini, hal-hal teknis yang kelihatannya kecil kadang justru menjadi penentu keputusan. Orang bisa saja mengakui bahwa sistem tiket lebih tertata, tetapi pada akhirnya tetap memilih tempat lain hanya karena mereka lebih nyaman berkata, “Mas, saya mau tanya sebentar,” lewat WhatsApp.

Jadi, kalau saya harus menyebut satu kelemahan yang paling terasa dari si Skripsi Express itu berdasarkan cerita para klien saya, maka itu adalah bagian ini. Bukan kualitas hasilnya. Bukan tanggung jawabnya. Bukan juga cara kerjanya. Melainkan jalur komunikasi yang, bagi sebagian orang, terasa terlalu jauh dari kebiasaan sehari-hari.

Respon dari Author Tidak Selalu Cepat dan Difokuskan ke Malam Hari

Kekurangan berikutnya berkaitan dengan poin sebelumnya, yaitu soal jalur komunikasi. Karena mereka menggunakan sistem tiket pesan di website, komunikasi dengan author alias Tim Penulis atau pihak yang menangani pesanan, memang tidak terasa secepat chat instan. 

Bagi orang yang sedang panik, sedang diburu jadwal bimbingan, atau pernah punya pengalaman buruk ditipu jasa serupa, jeda respon sekecil apa pun bisa terasa sangat besar.

Saya cukup paham kenapa hal ini jadi keluhan.

Ada tipe klien yang tidak sekadar butuh jawaban, tetapi butuh ketenangan secepat mungkin. Mereka ingin ketika mengirim pesan, beberapa menit kemudian sudah ada balasan. 

Bukan semata karena manja, tetapi karena mereka datang dengan beban pikiran yang sudah penuh. Apalagi kalau sebelumnya mereka pernah menjadi korban penipuan. Orang yang pernah tertipu biasanya menjadi jauh lebih sensitif terhadap keterlambatan respon. Sedikit sunyi saja bisa langsung menyalakan kecemasan di kepala.

Dari cerita yang saya tangkap, pihak Skripsi Express sebenarnya sudah memberi tahu sejak awal bahwa respon author sering diberikan pada malam hari. Alasannya masuk akal, yaitu agar mereka bisa fokus mengerjakan pekerjaan di siang atau jam kerja tertentu tanpa terus-menerus terdistraksi pesan masuk dari para kustomer mereka. 

Dari sisi sistem kerja, saya bisa memahami itu. Bahkan, dalam beberapa jenis pekerjaan, pola seperti ini justru bisa membuat hasil lebih terjaga.

Tetapi sekali lagi, sistem yang masuk akal belum tentu terasa nyaman untuk semua orang.

Jadi, kalau saya harus jujur, ini memang salah satu titik lemah mereka. Bukan karena mereka tidak bekerja, bukan karena mereka tidak bertanggung jawab, tetapi karena ritme respon mereka tidak selalu cocok dengan kebutuhan semua orang, terutama orang-orang yang datang dengan trauma, terburu-buru, atau sedang berada di bawah tekanan besar.

Platformnya Memang Canggih

Kalau soal platform, saya cukup berani mengatakan bahwa website Skripsi Express termasuk sangat baik, bahkan bisa dibilang canggih. Saya mengatakan ini bukan semata-mata karena tampilannya enak dilihat, tetapi karena saya melihat ada sistem yang benar-benar dipikirkan. 

Sebagai orang yang punya latar belakang IT, saya tahu bahwa membangun platform seperti itu tidak murah, tidak sederhana, dan jelas tidak dibuat dalam satu malam dengan niat ala kadarnya.

Di dunia jasa seperti ini, saya sudah terlalu sering melihat website yang fungsinya hanya satu: terlihat meyakinkan selama beberapa menit pertama. Setelah itu, isinya kosong. Halamannya tipis. Alurnya tidak jelas. Kontaknya seadanya. Semuanya terasa seperti panggung tipuan yang berdiri dengan kayu rapuh. 

Karena itu, ketika saya melihat platform Skripsi Express, kesan yang muncul justru berbeda. Ada struktur. Ada alur. Ada upaya untuk membuat sistem kerja mereka benar-benar menopang layanan, bukan sekadar menjadi pajangan.

Memang, klien-klien saya tidak pernah sampai berkata, “Wah, platformnya luar biasa canggih.” Mereka biasanya menyampaikan dengan bahasa yang lebih sederhana. Mereka bilang sistemnya rapi. Websitenya enak dilihat. Alurnya jelas. Prosesnya tertata. Tetapi dari komentar-komentar sederhana seperti itulah saya menarik kesimpulan saya sendiri, lalu saya cocokkan dengan apa yang saya lihat langsung. Dan menurut penilaian saya, platform mereka memang berada di atas rata-rata penyedia jasa joki skripsi sejenis.

Ini penting untuk disebut karena dalam banyak kasus, kualitas platform sering mencerminkan cara berpikir pengelolanya. Orang yang serius membangun sistem biasanya juga lebih serius menjaga proses. 

Tentu ini bukan hukum mutlak, tetapi sering kali ada hubungan di situ. 

Karena itu, ketika saya menyebut platform mereka canggih, saya tidak sedang memuji secara kosong. Saya sedang menjelaskan bahwa dari sisi infrastruktur, mereka tampak dibangun dengan niat yang tidak main-main.

Komentar Publik yang Bisa Membuat Sebagian Orang Tidak Nyaman

Hal lain yang menurut saya patut dicatat sebagai kekurangan adalah soal komentar publik. Dulu, sebelum mereka memakai sistem tiket pesan seperti sekarang, sarana komunikasi untuk orang yang belum memesan tampaknya lebih banyak mengandalkan kolom komentar terbuka. Dan kalau kalian melihat halaman kontak mereka, kalian bisa menemukan banyak sekali komentar di sana.

5. Tampilan halaman komentar publik Skripsi

Komentar-komentar itu adalah komentar asli. Itu menunjukkan bahwa terdapat interaksi nyata di sana. Tetapi masalahnya ada pada sifatnya yang terbuka.

Bagi sebagian orang, urusan meminta bantuan skripsi masih terasa seperti wilayah yang sensitif. Ada keinginan untuk bertanya tanpa dilihat terlalu banyak orang. 

Walaupun secara teknis, tinggal buat pakai saja nama samaran, tapi format komunikasi yang terasa publik seperti itu tetap bisa membuat orang tidak nyaman. 

Namun, dari yang terlihat sekarang, mereka tampaknya sudah bergerak ke arah yang lebih baik. Mereka menyediakan sarana komunikasi lewat tiket pesan dan juga email. Artinya, ada perubahan ke sistem yang lebih tertutup dan lebih nyaman untuk orang yang ingin berkomunikasi secara lebih privat. 

Menurut saya, itu perbaikan yang penting. Sebab kalau dulu komentar publik bisa menjadi penghalang psikologis bagi sebagian calon klien, sekarang hambatan itu tampaknya sudah mulai dikurangi.

Penutup: Kesimpulan Saya tentang Skripsi Express

Kalau saya harus merangkum semuanya dengan jujur, maka kesan saya terhadap Skripsi Express adalah seperti ini: mereka merupakan layanan yang serius, rapi, bertanggung jawab, dan punya sistem yang jauh lebih tertata dibanding banyak penyedia jasa lain yang pernah saya lihat. Dari cerita para klien saya, nama mereka juga relatif bersih dari keluhan besar. Hasilnya rata-rata bagus. Alurnya jelas. Platform nya kuat. Dan itu bukan hal kecil.

Tetapi tentu saja mereka bukan tanpa kekurangan.

Tidak adanya WhatsApp, respon author yang tidak selalu cepat, dan model komunikasi yang dulu sempat terasa terlalu publik adalah beberapa hal yang menurut saya cukup layak dicatat. 

Jadi, tulisan ini bukan ajakan untuk memuja mereka, dan juga bukan upaya untuk menjatuhkan. Saya hanya menuliskan apa yang memang saya dengar, saya lihat, dan saya simpulkan dari berbagai cerita para klien saya dulu, saat saya masih berada di dunia itu. Saya mencoba menaruh semuanya di meja secara terbuka: mana yang menurut saya menjadi nilai plus, dan mana yang menurut saya masih terasa sebagai celah.

Pada akhirnya, tiap orang akan menilai dengan kebutuhannya masing-masing. Ada yang lebih mementingkan hasil. Ada yang lebih mementingkan kecepatan respon. Ada yang lebih peduli pada keamanan transaksi. Ada juga yang baru merasa tenang kalau komunikasinya bisa lewat jalur yang sangat akrab seperti WhatsApp. 

Karena itu, yang paling penting bukan sekadar mencari jasa yang terdengar bagus, melainkan memahami apakah cara kerja jasa itu benar-benar cocok dengan kebutuhan kalian.

Dan mungkin, di situlah inti dari semua cerita ini.

Bukan soal siapa yang paling hebat, tetapi soal siapa yang paling pas untuk apa yang sedang kalian butuhkan.

Jika saat ini kalian ragu mau memesan jasa joki di Skripsi Express, artikel lain dari saya ini mungkin bisa memberi pencerahan: Cari Jasa Joki Skripsi?. Ini 5 Rekomendasi Saya sebagai Mantan Joki