You are currently viewing Tentang ACT (Acceptance and Commitment Therapy), Cara Kerja dan Penerapannya

Tentang ACT (Acceptance and Commitment Therapy), Cara Kerja dan Penerapannya

Acceptance and Commitment Therapy (ACT) merupakan sebuah pendekatan revolusioner dalam psikoterapi yang diperkenalkan oleh Steven C. Hayes pada era 1980-an.

ACT mengajarkan kita untuk menerima keberadaan pikiran negatif tanpa harus terikat atau terlibat secara mendalam dengan pikiran tersebut. Dengan cara ini, ACT membantu kita mengamati pikiran-pikiran negatif dari jarak yang jauh, seolah-olah kita menjadi penonton yang tidak terpengaruh oleh pikiran tersebut.

Tujuan utamanya bukan untuk menghapuskan pikiran negatif, melainkan untuk mengembangkan kemampuan kita dalam menghadapi mereka dengan cara yang lebih sehat dan produktif.

Bagaimana ACT bisa membantu kita mencapai kondisi ini? Apa saja langkah-langkah praktis dalam menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari? Artikel ini akan mengupas lebih dalam tentang cara kerja dan penerapan nya.

 

Cara Kerja ACT (Acceptance and Commitment Therapy)

ACT bekerja melalui beberapa prinsip utama yang saling terkait. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing poin:

1. Penerimaan

ACT mengajarkan penerimaan terhadap pikiran, perasaan, dan sensasi fisik yang tidak menyenangkan, bukan untuk menghindari atau menekan mereka. Penerimaan ini bukan berarti menyerah, tetapi lebih kepada mengakui realitas tanpa perlawanan yang kontraproduktif.

2. Defusi Kognitif

Teknik ini membantu individu untuk memisahkan diri dari pikiran dan perasaan negatif. Ini berarti mengamati pikiran dari jarak yang aman, mengurangi dampak dan pengaruh mereka terhadap perilaku.

3. Momen Saat Ini

ACT menekankan pentingnya hidup dalam momen saat ini (mindfulness). Dengan fokus pada saat ini, individu lebih mampu mengenali dan mengapresiasi pengalaman mereka tanpa terhanyut oleh pikiran masa lalu atau kekhawatiran masa depan.

4. Observasi Diri

Metode ini melibatkan pembelajaran untuk menjadi pengamat yang netral terhadap pikiran dan perasaan sendiri. Ini membantu individu untuk memahami bahwa mereka bukanlah pikiran atau perasaannya, melainkan bahwa mereka memiliki pikiran dan perasaan.

5. Nilai-nilai Pribadi

ACT membantu individu untuk mengidentifikasi apa yang benar-benar penting dan berharga bagi mereka – nilai-nilai pribadi mereka. Hal ini menjadi landasan dalam mengambil tindakan yang bermakna.

6. Tindakan Berkomitmen

Langkah terakhir ini berkaitan dengan mengambil tindakan yang selaras dengan nilai-nilai pribadi tersebut. ACT mendorong individu untuk menetapkan tujuan yang berhubungan dengan nilai-nilai mereka dan secara aktif bekerja menuju pencapaiannya, bahkan di tengah kehadiran pikiran dan perasaan negatif.

Melalui prinsip-prinsip ini, ACT tidak hanya membantu mengelola pikiran dan perasaan negatif tetapi juga membimbing individu untuk menjalani kehidupan yang lebih kaya dan bermakna sesuai dengan nilai-nilai mereka sendiri.

 

Penerapan ACT (Acceptance and Commitment Therapy)

Penerapan ACT dapat dilakukan melalui serangkaian langkah yang dirancang untuk membantu individu dalam mengelola pikiran negatif. Berikut adalah penjabaran langkah-langkah tersebut dengan penjelasan yang lebih detail:

1. Mengidentifikasi dan Menuliskan Pikiran Negatif

Langkah pertama adalah mengidentifikasi pikiran negatif yang Anda miliki. Pikirkan tentang hal terburuk yang mungkin terjadi akibat pikiran negatif tersebut dan tuliskan pada selembar kertas.

Contoh: Jika Anda berpikir bahwa Anda tidak mampu melakukan apa pun dan merasa sebagai pecundang, tuliskan “Saya seorang pecundang yang tidak bisa hidup dengan baik”.

2. Memahami bahwa Pikiran Bukan Fakta

Setelah menuliskan pikiran negatif, langkah kedua adalah memahami bahwa: Pikiran tersebut belum tentu merupakan fakta. Penting untuk mengakui bahwa ketika kita terlalu menyatu dengan pikiran negatif, kita cenderung menganggapnya sebagai kenyataan. Langkah ini membantu Anda menyadari perbedaan antara pikiran dan kenyataan yang sebenarnya.

3. Menambahkan Konteks pada Pikiran Negatif

Selanjutnya, tulis di atas kalimat pikiran negatif yang sudah Anda tulis sebelumnya dengan frasa “Saya memiliki pikiran bahwa…” Sehingga, menggunakan contoh sebelumnya, kalimatnya menjadi “Saya memiliki pikiran bahwa saya seorang pecundang yang tidak bisa hidup dengan baik”. Ini membantu Anda mengakui bahwa ini hanya pikiran, bukan pernyataan tentang diri Anda yang mutlak.

4. Meningkatkan Kesadaran Diri

Tambahkan lagi teks atau kalimat di atas apa yang telah Anda tulis, yaitu “Saya menyadari bahwa”. Ini mengubah kalimat menjadi “Saya menyadari bahwa saya memiliki pikiran bahwa saya seorang pecundang yang tidak bisa hidup dengan baik”. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran diri tentang keberadaan pikiran tersebut dan membantu Anda memisahkan diri darinya.

5. Merasakan Efek dari Pemahaman Ini

Langkah terakhir adalah merasakan dan mengamati perasaan Anda setelah membaca dan memproses tulisan tersebut. Bagaimana perasaan Anda setelah menyadari dan mengakui pikiran negatif ini? Apakah ada perubahan dalam cara Anda melihat diri sendiri atau situasi Anda?

Untuk memperoleh pemahaman yang lebih dalam dan terstruktur tentang penerapan ACT (Acceptance and Commitment Therapy) yang telah saya uraikan sebelumnya, saya menyarankan Anda untuk menonton video dari Dr. Judy Ho berikut. Video ini menawarkan penjelasan yang lebih detail dan sistematis mengenai konsep dan praktik ACT.

 

Batasan ACT (Acceptance and Commitment Therapy)

Ketidakcukupan ACT dalam Menghadapi Situasi Serius dan Menakutkan

ACT (Acceptance and Commitment Therapy) terbukti sangat efektif dalam memutus siklus pikiran negatif yang terus-menerus mengganggu dan muncul di pikiran kita. Metode ini berperan dalam mengurangi kelekatan kita terhadap pikiran-pikiran yang merugikan.

Namun, perlu diingat bahwa ACT memiliki batasannya, terutama ketika menghadapi masalah atau kekhawatiran yang sangat serius dan mendalam. Dalam situasi seperti ini, ACT saja mungkin tidak cukup.

Untuk masalah yang sangat berat dan menakutkan, ACT perlu dikombinasikan dengan metode ‘Paradoxical Intention’ yang dikembangkan oleh Viktor Frankl. Alasan kombinasi ini penting adalah karena, dalam menghadapi masalah besar, sering kali diperlukan pendekatan yang memungkinkan kita untuk menerima potensi kondisi terburuk dari masalah tersebut terlebih dahulu. Setelah penerimaan ini tercapai, ACT dapat digunakan untuk membantu memutus siklus pikiran negatif yang terus berulang.

Penting untuk dicatat bahwa, meski ACT mungkin tidak sepenuhnya menyelesaikan masalah besar, hampir semua metode psikologi akan sangat membutuhkan integrasi dengan prinsip-prinsip ACT. Tanpa itu, pikiran negatif akan selalu muncul.

Untuk informasi lebih lanjut tentang bagaimana ACT dapat diterapkan dalam menangani masalah kompleks dan serius, saya telah menulis artikel lain yang dapat Anda temukan di halaman berikut: [link].

REF: